Karawitan Jawa bisa dibilang sebagai seni suara tertua dalam budaya Jawa. Seni suara yang menawarkan keindahan begitu halus dan memiliki fungsi estetika yang sarat dengan nilai sosial, moral dan spiritual. Karawitan tercipta dari kerumitan alunan suara berlaras slendro dan pelog dari Gamelan.

Pada awal perkembangannya, fungsi karawitan gamelan hanya berkisar pada upacara-upacara keraton. Namun, sejak jaman Mataram yang dikatakan sebagai tonggak seni karawitan, seni suara ini difungsikan sebagai sarana hiburan yang juga dapat dinikmati oleh masyarakat diluar tembok Keraton.

Karawitan Jawa bisa dibilang sebagai seni suara tertua dalam budaya Jawa. Seni suara yang menawarkan keindahan begitu halus dan memiliki fungsi estetika yang sarat dengan nilai sosial, moral dan spiritual. Karawitan tercipta dari kerumitan alunan suara berlaras slendro dan pelog dari Gamelan.

Pada awal perkembangannya, fungsi karawitan gamelan hanya berkisar pada upacara-upacara keraton. Namun, sejak jaman Mataram yang dikatakan sebagai tonggak seni karawitan, seni suara ini difungsikan sebagai sarana hiburan yang juga dapat dinikmati oleh masyarakat diluar tembok Keraton.

Menurut Prawiroatmojo (1985:34) istilah karawitan telah mencapai popularitasnya di masyarakat, dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sudah sering terdengar kata rawit yang berarti halus dan indah-indah. Begitu pula terdengar kata ngrawit yang berarti karya seni yang memiliki sifat-sifat yang halus, rumit dan indah

Adapun definisi dari Karawitan, Suhastjarja (1984) menyatakan seni karawitan adalah musik Indonesia yang memiliki laras nondiatonic (slendro/pelog). Musik digarap menggunakan sistim notasi, ritme, warna suara. Serta, memiliki fungsi, sifat pathet dan aturan garap dalam bentuk instrumentalia, vokalis dan campuran. Sehingga, menjadikan musik karawitan enak didengar baik untuk dirinya dan orang lain.

Dalam hal sejarah, Karawitan Jawa tidaklah terlepas dari perkembangan alat musik gamelan yang secara hipotesis diketahui telah ada sebelum masuknya pengaruh agama Hindu ke Indonesia. Hal ini senada dengan ungkapan seorang sarjana berkebangsaan Belanda bernama Dr. J.L.A. Brandes.

Secara teoritis dia mengatakan bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah memiliki ketrampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889). 10 butir di antaranya WayangGamelanilmu irama SanjakBatikpengerjaan logamsistem mata uang sendiriteknologi pelayaranastronomipertanian sawah, serta birokrasi pemerintahan yang teratur.

Jika apa yang dikatakan oleh Brandes diatas adalah benar, itu berarti keberadaan Gamelan telah ada sejak jaman prasejarah. Meskipun begitu tahun yang tepat sangatlah sulit untuk diketahui karena pada masa prasejarah masyarakat belum mengenal sistem tulisan. Juga tidak ada bukti-bukti tertulis yang dapat dipakai untuk melacak dan merunut Gamelan pada masa Prasejarah.

Yang pasti, keberadaan gamelan di Indonesia berusia sangat tua. Melalui bukti-bukti yang ada seperti dalam bentuk tulisan-tulisan, prasasti-prasasti pada dinding candi. Bukti tertua mengenai keberadaan alat-alat musik tradisional Jawa dan berbagai macam bentuk permainannya dapat ditemukan pada Piagam Tuk Mas yang bertuliskan huruf Pallawa

Kesederhanaan bentuk, jenis dan fungsinya tentu berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat pada waktu itu. Pada piagam tersebut terdapat gambar sangka-kala, yaitu semacam terompet kuno yang digunakan untuk perlengkapan upacara keagamaan (Palgunadi, 2002:7).

Perjalanan panjang Karawitan Jawa akan selalu dikaitkan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di pulau Jawa, seperti Majapahit dan Mataram. Melalui kerajaan-kerajaan tersebut, Karawitan dan gamelannya mengalami perkembangan sangat pesat, yang mana seorang Raja sebagai penguasa tunggal kerajaan sangat menentukan hidup mati suatu kesenian.

Seperti yang diutarakan dalam puisi abad ke-14 Kakawin Negarakertagama, Majapahit mempunyai lembaga khusus yang bertanggung jawab mengawasi program seni pertunjukan (Sumarsam,2003:19). Begitu pentingnya seni pertunjukan (karawitan) sebagai suatu pertanda kekuasaan raja adalah keterlibatan gamelan dan teater pada upacara-upacara atau pesta-ria kraton (Sumarsam, 2003:11).

Perkembangan Karawitan Jawa berlanjut dengan munculnya kerajaan Mataram. Pada jaman ini dianggap sebagai tonggak seni karawitan, terutama untuk gaya Yogyakarta dan Surakarta. Tidak hanya penambahan jenis-jenis gamelan, melainkan fungsi seni karawitan pun mengalami perkembangan. Di samping sebagai sarana upacara, karawitan juga berfungsi hiburan.

Dahulu karawitan produk kraton hanya dinikmati di lingkungan Kraton. Selanjutnya, karena keterbukaan kraton dan palilah dalem, karawitan produk kraton berbaur dengan masyarakat pendukungnya. Dari realita tersebut, terlihat kuatnya peran penguasa dalam menentukan keberadaan suatu bentuk kesenian. “sabda pandhito ratu” merupakan kebiasaan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan saat itu.

Eksistensi dan perkembangan kesenian di masyarakat, keadaannya, penciptaannya, pelaksanaannya tergantung pada kegiatan para pendukung, dan adat kebiasaan yang berlaku. Popularitas suatu cabang seni bertalian erat dengan kegemaran orang banyak pada suatu waktu, hidup suburnya berkaitan dengan penghargaan, bantuan materil dari penguasa (Djokokoesoemo, tt:132-133).